Persiapan Operasi

Learning Objective

  1. Mengetahui  Persiapan Operasi.
  2. Mengetahui Anestesi Umum.
  3. Mengetahui Operasi Colostomy.

Pembahasan

Mengetahui  Persiapan Operasi

  1. Hewan yang akan di operasi.
  2. Alat dan bahan operasi.
  3. Ruang operasi dan perlengkapannya.
  4. Operator dan pembantu operator.

Persiapan Hewan

  1. Hewan tidak dberi makan 6-12 jam dan tidak di beri minum 2-6 jam sebelum operasi.
  2. Sehari sebelum operasi hewan di mandikan (terutama bila bulunya kotor), keringkan (Dilap dengan  handuk kering dan alat pengering bulu), kemudian di lakukan pencukuran bulu (Hartiningsih, 2011).

Cara Pencukuran bulu:

  1. Bulu dibasahi air sabun.
  2. Pencukuran bulu dilakukan searah dengan rebah bulu.
  3. Setelah dicukur, daerah yang akan dioperasi dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air, kemudian dikeringkan (di lap dengan handuk kering).
  4. Urin dan feses di keluarkan.
  5. Hewan diberi  premedikasi Atropin sulfat 0.025% dosis 0,04 mg/kg BB pada Kuda, apabila sudah ada pengaruhnya, maka mukosa mulut tampak kering. Kemudian suntikan kombinasi xylazin 2% dan ketamin HCL 10% dosis 10-15 mg/kg BB secara intramuskuler sesuai dengan dosis.

Persiapan alat dan bahan (Coumbe, 2001).

  1. Scalpel   1 Buah
  2. Gunting  2 Buah
  3. Needle holder 1 Buah
  4. Pinset chirurgis dan anatomis 2 Buah
  5. Mosquito forceps 6 Buah
  6. Allis forceps 6 Buah
  7. Hemostasis forceps 6 Buah
  8. Duk
  9. Tampon
  10. Jarum
  11. Duk clemp 6 Buah
  12. Meja operasi
  13. Endotrakeal tube
  14. Kateter
  15. Tiang infuse
  16. Tabung oksigen
  17. Antiseptik

Klasifikasi jarum cat gut  berdasarkan kromikisasi (memperlama penyerapan dan menurunkan intensitas reaksi jaringan)  ada 4 macam:

1. Type A (plain atau tanpa kromikisasi): 3-7 hari

2. Type B (mild chromic treatment): 20 hari

3. Type C ( medium chromic treatment)

4. Type D (extra chromic treatment): 40 hari  (Coumbe, 2001).

Penggunaan Benang

Organ                               Macam Benang                               Ukuran

Pembuluh darah          sutera, nilon, polypropylene               0 sampai 2-0 (Ligasi)                      Syaraf                               sutera                                                   3-0 sampai 6-0

Muskulus                    catgut chromic                                     5-0 sampai 6-0

Organ berlumen          catgut chromic, polydioxanone,          3-0 sampai 4-0

polipropylene acid, nylon

Linea alba                   catgut chromic, katun                          0 sampai 2-0

Subkutan                     catgut plain                                                     0 sampai 4-0

Kulit                            nylon, katun, sutera                             0 sampai 4-0

Persiapan Ruang Operasi

Ruang operasi harus steril dan tertutup, ada pencahayaan yang cukup. Peralatan harus sudah tersusun rapi dan sudah disterilisasi di meja operasi. Tiang infuse sudah terpasang bersama tabung oksigen (Dudley, 1986).

Persiapan operator dan pembantu operator.

  1. Mengenakan kopiah/tutup kepala.
  2. Mengenakan masker.
  3. Mensuci-hamakan tangan dari ujung jari sampai siku dengan antiseptic.
  4. Mengenakan baju operasi steril.
  5. Mengenakan sarung tangan dan alas kaki steril.

Operator harus dalam keadaan steril terutama pada bagian jari-jari tangan harus dicuci pakai air sabun dan disikat, kuku harus pendek, dan tidak boleh memakai asesoris seperti cincin. Operator juga tidak boleh memakai alas kaki.

Tahap 2

1. Pemasangan infus,

2. Pembiusan, pemasangan endotrakheal tube

3. Fixasi  hewan di meja operasi

4.   Pengolesan antiseptik pada bagian  dan di sekitar kulit yang akan dinsisi

5.   Pemasangan duk (Coumbe, 2011).

Mengetahui Tentang Anestesi Umum.

Anestesi Umum

Sebelum melakukan anestesi umum biasanya didahului tindakan premedikasi (Sardjana dan Kusumawati, 2004).

Berikut beberapa stadium anestesi:

1)      Induksi (analgesia,eksitasi volunter)

Tanda :

eksitasi, sulit dikendalikan, pernafasan meningkat, terjadi defekasi dan urinasi.

peningkatan pulsus, sekresi saliva dan bronchial, dilatasi pupil, dan pada akhir stadium ini hewan menjadi lebih tenang dan terjadi analgesia.

2)      Eksitasi involunter (dellirium)

Tanda :

hilang kesadaran dan kontrol kehendak, terjadi gerakan-gerakan tidak terkontrol dan terkoordinasi terhadap stimulus luar, pernafasan ireguler, terjadi refleks muntah.

3)      Surgical anatesi

4)      Paralisa medula/overdosis

Tanda:

  • Paralisa otot dada
  • Pulsus cepat
  • Pupil dilatasi
  • Bola mata seperti mata ikan

Berikut cara pemberian anestetika pada beberapa jenis hewan:

1)      Unggas

Pemberian secara parenteral

  1. Pemberian secara intravena

Contoh: methoxital sodium, thiopental sodium, equithesin.

  1. Pemberian secara intraperitoneal, intramuskuler atau subkutan

Contoh: equithesin

  1. Pemberian secara intramuskuler (Premedikasi)

Contoh: chlorpromizine, meperizine, dll.

2)      Babi

Pemberian secara parenteral

  1. Pemberian secara intravena

Contoh: alfa chloralose, penthobarbital sodium, thiopental sodium, thiamylal sodium(anestesi umum).

  1. Pemberian secara intraperitoneal

Contoh: penthobarbital dengan dosis +25-35 mg/kg BB.

3)      Kuda

Pemberian secara parenteral

  1. Pemberian secara intravena

Contoh: xylazin, thiobarbiturate, guafenensin (anestesi dan premedikasi).

  1. Pemberian secara intramuskuler atau subkutan

Contoh: lidocain, prilocain, mepivacain (anestesi lokal dan premedikasi).

Pemberian secara inhalasi diperlukan teknik dan pengalaman kusus, karena bisa menyebabkan hipoksemia dan hipotensi (Brander et al, 1991).

Anestesi Inhalasi

Pada dasarnya anestesi inhalasi dapat diklasifikasikan dalam empat metoda yaitu :

  1. Open drop method
  2. Semiopen drop method                                                                       (Coumbe, 2001).
  3. Semiclose method
  4. Closed method

Sirkuit Anestesi yaitu unutuk menyalurkan gas anestesi dari mesin anestesi kepada hewan

Teknik anestesi ini aman digunakan, Penggunannya dengan mesin anestesiyang konsentrasi obat anestetiknya dapat diketahui, menggunakan oksigen secara single atau dapat juga dikombinasikan dengan Nitrous Oxide sebagai gas pengantar.

Campuran gas disalurkan pada pipa dengan ukuran yang sesuai dan pengaruh aliran gas dapat dikontrol melalui ruang absorbsi dengan menggunakan charcoal yang diaktivasi (soda lime) (Sardjana dan Kusumawati, 2004).

Mengetahui Tentang Colostomy

Colostomy adalah operasi membuka kolon, biasanya dilakukan untuk mengeluarkan benda asing, seperti enterolith. Laparotomy di incisi pada ventral midline, dari umbilicus ke caudal diperlukan untuk eksplorasi abdomen, serta mengidentifikasi dan mengeluarkan enterolith. Obstruksi biasanya terjadi di transverse colon dan kolon kecil, operasi pengeluaran enterolith di bagian proksimal kolon kecil atau transverse colon harus didahului sebelumnya dengan evakuasi ingesta dari kolon besar melalui enterotomy pada pelvic flexure untuk meminimalisir kontaminasi abdomen. Selang air hangat kemudian dialirkan melalui rektum  dan  akan menggerakkan enterolith ke arah kolon dorsal, enterolith kecil dapat mengalir ke sisi enterotomy kemudian dikeluarkan enterolith yang lebih besar memerlukan enterotomy terpisah pada kolon dorsal kanan untuk pengeluaran enterolith yang mempunyai sisi rata atau bentuk polihedral biasanya lebih dari satu pemeriksaan adanya enterolith tambahan pada kolon besar dan kecil sebelum menutup abdomen. Enterolith pada kolon kecil harus dikeluarkan melalui enterotomy pada bagian kolon yang terkena. Panjang irisan enterotomy dibuat secukupnya sehingga mudah mengeluarkan enterolith. Enterotomy pada pelvic flexure dan evakuasi pada kolon besar harus dilakukan sebelum enterotomy pada kolon kecil akan meminimalisir ingesta masuk ke sisi enterotomy segera setelah masa operasi. Enterotomy kemudian ditutup dalam 2 layer menggunakan benang yang dapat diserap dengan jarum taper.

Jahitan 1: semua lapisan dinding usus dengan pola jahitan sederhana tunggal atau menerus.

Jahitan 2: sero muskuler dengan pola jahitan lambert atau cushing (Anggraeni, D. 2011).

Gambar pola jahitan sederhana tunggal dan sederhana menerus

Pola jahitan gastrointestinal antara lain:

  1. Lembert
  2. Halstead
  3. Connel
  4. Cushing
  5. Parker-Kerr
  6. Bell

Simpul jahitan

  1. Simpul awal, Granny knot, Surgeon knots, Triple knot.
  2. 2.   Square knot, Slipp knot.

(Sjamsuhidajat dan Jong, 1997).

                                                                      Gambar pola jahitan gastrointestinal

 

Perawatan Pasca Operasi Colostomy

  1. Kuda dimonitor perkembangannya tiap 3 jam.
  2. Pemberian antibiotik spektrum luas sampai 48 jam setelah operasi.
  3. Pemberian nonsteroidal anti-inflamasi.
  4. Pemberian cairan intravena (40-60 ml/kg).
  5. Diberi minum air hangat beberapa jam setelah operasi harus diulang tiap setengah jam (maintenance : 20L /450 kg BB/hari).
  6. Jangan diberi makan 12-24 jam pasca operasi.
  7. Pakan dalam jumlah sedikit dapat diberikan sesegera mungkin jika kuda sudah mau makan dengan sendirinya.
  8. Kuda yang sudah mau makan dapat diberi tambahan suplemen lemak tinggi untuk meningkatkan kalori.
  9. Kuda dapat mulai exercise sedikit demi sedikit 30 hari setelah operasi.

 

 

Daftar Pustaka

Anggraeni, D. 2011. Kuliah Umum Enterolith dan colostomy. FKH UGM, Yogyakarta.

Brander, G.C., Pugh, D.M., Bywater, P.J. 1991. Veterinary Applied Pharmacology and Therapeutics. The English Language Book Society, London.

Dudley, H.A.F.1986. Hamilton Bailey’s Emergency Surgery.11th Edition. John Wrigth & Sons Ltd: Great Britain.

Coumbe, K.M. 2001. The Equine Veterinary Nursing Manual, Blackwell Science Ltd, London.

Hartiningsih, 2011. Kuliah Umum Persiapan Operasi, FKH UGM, Yogyakarta.

Sardjana, I.K.W., dan Kusumawati, D., 2004. Anestesi Veteriner Jilid 1, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Sjamsuhidajat, R., dan Jong, W.D., 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi, EGC, Jakarta.