PNEUMONIA

Etiologi

Pneumonia dapat terjadi sebagai akibat dari infeksi virus, bakteri, jamur, dan larva cacing (Foster dan Smith, 2004). Faktor-faktor yang juga dapat berpengaruh atas terjadinya radang paru-paru misalnya: kandang yang lembab, berdebu, ventilasi udara yang jelek (Subronto, 1995).

Virus canine distemper, Adenovirus tipe 2, Parainfluenza tipe 2 dan Canine herpesvirus 1 dapat menyebabkan lesi pada saluran udara dan mengakibatkan pneumonia dan merupakan predisposisi infeksi bacterial pada paru-paru. Agen bakteri seperti: Bordetella bronchiseptika, Streptococcus sp., Pasteurella multocida, E. coli, Mycobacterium tuberculosis dan Mycoplasma sp, biasanya selalu menyebabkan bronchopneumonia dan bentuk lain pneumonia seperti multifokal nekrosis atau pneumonia granulomatosa berhubungan dengan penyebaran secara hematogenous ke paru-paru. Pneumonia mikotika pada anjing sering disebabkan oleh Blastomyces dermatidis, Histoplasma capsulatum, Coccidioides immitis, Pneumocytis carinii dan Cryptococcus neoformans. Pneumonia verminosa pada anjing, biasanya disebabkan oleh migrasi larva cacing Toxocara canis, Ancylostoma caninum dan Strongloides stercoralis (Anonim, 2004).

Patogenesis

Agen-agen infeksi memasuki jaringan paru-paru secara inhalasi (aerogen), hematogen dan limfogen. Adanya keradangan paru-paru menyebabkan pertukaran gas oksigen dan karbondioksida terganggu. Hipoksia yang terjadi diikuti dengan kompensasi berupa peningkatan frekuensi nafas dan intensitas pernafasan yang secara reflektoris terjadi karena adanya rangsangan terhadap reseptor oleh kelebihan CO2. Karena adanya rasa sakit karena terjadi proses keradangan, inspirasi tidak dapat dilakukan dengan leluasa, hingga pernafasan jadi cepat dan dangkal. Karena adanya hiperemi jaringan paru-paru akan mengalami pemadatan dan konsolidasi Kepekaan yang meningkat pada selaput lendir pernafasaan menyebabkan jaringan tersebut menjadi peka terhadap rangsangan ringan, misalnya karena udara pernafasan, hingga terjadinya batuk. Oleh karena adanya eksudat didalam saluran pernafasan akan terdengar suara ronchi basah waktu auskultasi. Konsolidasi paru-paru dan eksudat menyebabkan suara vesikuler yang normal menjadi hilang. Perubahan struktur dan kosistensi paru-paru dapat diamati dengan jalan perkusi atau auskultasi.

Infeksi secara hematogen dan limfogen menyebabkan terbentuknya fokus-fokus radang yang tepatnya tersebar pada berbagai lobus paru-paru. Infeksi yang disebabkan oleh kuman pada stadium lanjut akan disertai gejala toksemia, sel-sel mengalami keracunan, hingga mekanisme perlawanan terhadap agen infeksi juga menurun. (Subronto, 1995).

Gejala klinis

Gejala yang terlihat pada infeksi paru-paru adalah dyspnoe (kesulitan bernafas) terutama pada saat menarik nafas. Nafas menjadi cepat dan dangkal. Anjing kesulitan mendapatkan oksigen yang cukup karena jaringan paru-paru terisi oleh cairan, sehingga menurunkan jumlah alveoli yang berfungsi. Lidah, gusi dan bibir mungkin terlihat kebiruan atau abu-abu (cyanosis) sebagai indikator kurangnya oksigen dalam darah. Temperatur tubuh biasanya meningkat (Foster dan Smith, 2004). Menurut Subronto (1995), mengatakan bahwa tidak semua proses keradangan diikuti dengan kenaikan suhu tubuh. Kenaikan suhu tubuh pada umumnya tidak dijumpai pada pneumonia yang berlangsung secara kronik, selain itu pneumonia verminosa juga tidak biasa diikuti dengan kenaikan suhu tubuh.

Pada pneumonia, anjing terlihat depresi, anoreksia, dehidrasi dan tidak mampu berdiri atau bergerak. Batuk kering, batuk yang dalam dan serak yang merupakan ciri dari pneumonia mungkin akan terdengar. Kadang-kadang sekresi yang berlebihan, berbau busuk dapat menyebabkan timbulnya leleran pada hidung dan mulut hewan yang sakit. Hewan yang menderita pneumonia yang sangat akan menjulurkan kepala dan mengaduksikan sikunya karena kekurangan udara. Jika daerah ang mengalami konsolidasi luas maka akan tampak pada pemeriksaan secara perkusi (pekak) diatas daerah tersebut. Pada auskultasi suara pernafasan bronchial mungkin terdengar dan mungkin juga bronchovesikuler pada tepi daerah konsolidasi. Membrana mukosa dan konjungtiva kemerahan dan terjadi vasa injeksi. Leleran mukus sampai mukopurulen dari mata sering terlihat (Ettinger, 1975).

Diagnosa

Penentuan diagnosa didasarkan atas gejala klinis, pemeriksaan auskultasi dan perkusi, pemeriksaan rontgen (Subronto, 1995). Pemeriksaan sitologi dapat menunjukkan respon imun hewan dan uji sensitivitas. Analisa pada leleran hidung penting untuk diagnosa pada infeksi bakteri. Pneumonia yang disebabkan oleh virus biasanya menyebabkan peningkatan temperatur tubuh awal (40-41ºC). Pada pemerksaan tinja akan ditemukan telur-telur cacing, yang mungkin mempunyai kaitan dengan proses radang paru-paru, karena larva cacing dalam perjalanannya dapat pula mengakibatkan radang paru-paru (Subronto, 1995).

Pengobatan                  

Hewan harus ditempatkan pada lingkungan yang kering, tidak lembab dan hangat, hewan diisolasi (Subronto,1995). Pengobatan ditujukan untuk meniadakan penyebab radang, obat-obat antibiotik dan obat sifatnya mendukung, misalnya ekspektoransia dan terapi supportif.

PENYAKIT RESPIRASI HEWAN KECIL

I PROBLEM SALURAN RESPIRASI

1. BATUK

Definisi :

Batuk adalah suara yang timbul akibat keluarnya udara pernafasan secara tiba-tiba dari paru-paru

Patofisiologi

Fungsi batuk adalah reflek perlindungan normal tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran nafas. Reseptor batuk pada sistem respirasi sebagian besar pada saluran nafas atas, dan tidak ada pada bronchiole. Pathways afferent dari reflek batuk berjalan melewati nervus vagus, trigeminus, glosofaringeus dan perineal. Impul akan dikirim ke pusat batuk di medula oblongata. Kemudian Impul efferent akan disebarkan melalui nervus vagus, prenial dan nervus spinal ke laring, pohon trakeobronchial, diafragma dan otot respirasi. Reseptor batuk juga terdapat di hidung, sinus paranasal, dan faring. Reseptor batuk akan merespon rangsangan kemikal dan mekanik .

Efek menguntungkan dari batuk adalah membersihkan saluran nafas terutama trakea, dan bronchus. Pada batuk persisten dan berat, terutama batuk kering dan nonproduktif akan merugikan hewan itu sendiri, karena kondisi tersebut : mempercepat penyebaran infeksi pada saluran Nafas; Memperparah radang dan iritasi saluran nafas; Memperbesar distensi alveoli yang berpengaruh ke emfisema; Menyebabkan pneumothorak karena ruptur saluran nafas; dan Memperlemah kondisi dan menambah kelelahan pasien.

Penyebab batuk dapat dikelompokkan menjadi tiga tergantung lokasi saluran nafas yaitu Saluran nafas atas (Paringitis, tonsilitis, trakeitis, kolaps trakea); Saluran nafas bawah ( bronchitis akut dan kronis, bronchiectasis, pneumonia, fibrosis dan abses pulmonun, pembesaran limponodus, bronkitis alergi, parasit paru, trauma bronchus, iritasi asap rokok dan pembakaran); dan Sistem kardiovaskular (gagal jantung kiri, pembesaran aterial kiri, parasit jantung, trombosis pulmonum, dan edema pulmonum) .

Rencana diagnostik

Pengamatan fisik dan sejarah

 

Gejala yang sering mengaburkan pemilik hewan tentang batuk yaitu : gagging, pengeluaran dahak, regurgitasi, dan muntah. Pada beberapa kasus anjing penderita batuk, pemunculan gejala batuk dapat dimanipulasi dengan cara meraba trakea secara perlahan dan lembut. Hal itu dapat dilakukan dihadapan pemilik untuk mengkonfirmasi tentang gejala yang mereka amati.

Pemeriksa harus bertanya ke pemilik anjing tentang keadaan lingkungan tempat anjing dipelihara, seperti jenis kandang, lokasi kandang, lantai kandang, alas tidur, air minum dan atap kandang. Hal lain yang penting juga ditanyakan ke pemilik yaitu : Kontak dengan anjing lain yang sakit, polusi udara (asap rokok, asap pembakaran), dan kemungkinan tertular parasit. Tanyakan ke pemilik tentang gejala lain yang teramati seperti : depresi, lethargi, anoreksia, dispnea, tidak respon dengan latihan. Hal ini akan sangat membantu dalam penyingkiran diagnosis sementara sehingga diagnosis menjadi lebih akurat.

Gejala khas batuk yang sangat membantu dalam penegakan diagnostik yaitu: Batuk keras, kasar dan kering hal itu biasanya gejala dari iritasi atau radang laring, trakea, bronchi. Hal itu sering dijumpai pada anjing yang menderita penyakit trakeobroncitis (kennel cough), dan pada kucing penderita rhinotrakheitis. Batuk “goose honk” sering dijumpai pada anjing toy-breed yang menderita kolaps trakhea.

Auskultasi torak dilakukan secara hati-hati dan pelan-pelan pada penderita batuk. Auskultasi harus dilakukan terhadap jantung dan paru-paru. Auskultasi akan sangat dibantu dengan manipulasi trakea untuk merangsang batuk dan selanjutnya dilakukan reauskultasi torak kembali. Suara abnormal sering terdengar pada awal atau intensif setelah hewan batuk beruntun. Suara lain yang sering terdengar pada penderita batuk adalah suara Crackles, wheezes dan peningkatan suara normal nafas. Suara cardiac murmur, kelainan ritme jantung dapat juga diauskultasi pada hewan penderita batuk karena kelainan jantung.

Tabel 1. Perbedaan dari penyebab batuk secara umum

Penyebab batuk  
Saluran Nafas atas Saluran nafas bawah Kardiovascular  
Depresi/lethargi Absen atau ringan Ringan – berat Sedang – berat
Demam Absen atau ringan Ringan Tidak ada
Dehidrasi Absen Ringan Ringan
Batuk-batuk Sering Kadang-kadang Kadang-kadang
Dispnea Umumnya absen Ringan Ringan
ketahanan latihan Absen atau ringan Ringan Sedang
Suara paru normal Abnormal Abnormal
Suara jantung normal Normal Abnormal
WBC normal Meningkat Normal atau meningkat
Rongsen torak normal abnormal Abnormal

Dikutip dari: MD Lorenz dan LM Cornelis. 1987. Small animal medical diagnosis,

Evaluasi Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium harus dilakukan jika pasien menunjukkan gejala sakit seperti demam, depresi, anoreksia, dispnea diikuti oleh batuk atau jika batuk bersifat kronis (lebih dari 1 minggu). Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan meliputi: Hitung darah Lengkap, differential, profil biokimia serum, dan analisis urin.

Radiografi

Pemeriksaan radiografi torak dilakukan untuk memperluas pemeriksaan fisik pasien batuk. Anatomi normal torak harus dibandingkan dengan kelainan yang dijumpai pada torak.

Tes elektrofisiologi

Tes ini dilakukan terutama pada pasien gangguan jantung yang ada gejala batuk. Uji ini meliputi uji elektrocardiogram. Uji khusus yaitu echocardiografi perlu juga dilakukan.

Pencucian transtrakheal

Evaluasi dari lapisan mukosa respirasi dari trakea sampai alveoli dapat didapat dari pencucian transtrakeal. Hal ini dilakukan dalam kondisi hewan terbius dan hewan dipasang tube endotrakeal. Pencucian menggunakan larutan saline steril seperti lactat ringer’s atau NaCl 0.9%.

Bronchoscopi

Pengamatan bronchoscopi perlu dilakukan pada pasien batuk, tetapi ini harus dilakukan pada hewan dalam kondisi terbius total dan alat yang diperlukan agak mahal.

Tabel 2. Penyebab Batuk pada Anjing dan Kucing dan Temuan Khas

  Sejarah/pemeriksaan fisik Pemeriksaan laboratorium Radiografi
ANJING      
Paringitis/laringitis akut Batuk pendek diikuti gagging dan menelan dahak, suara parau, kemerahan pring dan laring, tidak ada gejala sistemik Normal Normal
Traketis Sejarah kontak dengan anjing lain, batuk kering dan pendek, tidak ada gejala sistemik Normal Normal
Pneumonia aspirasi Sejarah pembiusan umum dan megaesopagus, batuk basah dan dalam, dispnea, demam WBC meningkat, neutropilia Alveolar konsolidasi
Infektius trakeobronkitis kronis Sejarah kontak dengan anjing lain, batuk kering dalam dan persisten, tidak ada gejala sistemik normal Normal
Kolaps trakea Toy breed kegemukan, batuk goose honk, dispnea, kolap trakea normal Kolaps trakea, kolaps bronkial
Alergi bronkitis Batuk kering, dalam dan produktif; dispnea; crackles, wheeze; tanpa gejala sistemik Periperal eosinophilia, eosinopilic inflamasi pada transtrakeal wash Bronkial jelas terlihat
Cacing jantung Berat badan turun, batuk persisten, dispnea ringan sampai berat, exercise intoleran Periperal eosinopilia, hiperglobulinemia, positif mikrofilaria, Pembesaran jantung kanan, pembesaran arteri pulmonum,
Gagal jantung kiri Anjing ras kecil dan tua; batuk pada malam hari; dispnea; exercise intolerance ECG variasi; hipertropi ventrikel kiri Arterial kiri membesar, pembesaran vena pulmonum, edema pulmonum disekitar jantung
KUCING      
Viral rhinotraketis akut Kontak dengan kucing lain; bersin dan kemerahan hidung, mata berair, ulcer mulut WBC meningkat Normal
Feline asma kronis Batuk paroksimal, dalam, produktif dan leher diluruskan; dispnea berat, sianosis Periperal eosinopilia Paru hiperinflamasi
Cacing paru Batuk paroksimal, dalam, produktif dan leher diluruskan; dispnea, demam Periperal eosinopilia; positif larva pada transtrakeal wash Brokial membesar
Cacing jantung Nafsu makan menurun, muntah sporadik, batuk kadang-kadang Periperal eosinopilia, hiperglobulinemia, Pembesaran arteri pulmonari; pembesaran ventrikel kanan

Dikutip dari: MD Lorenz dan LM Cornelis. 1987. Small animal medical diagnosis,

Terapi Simtomatis

1. Bronkodilatator

Kandungan obat bronkodilatator memberikan keuntungan dalam pengobatan pasien batuk karena mempunyai efek bronkospasmus. Dua katagori bronkodilatator adalah (a) Inhibitor posfodiester : theopilin dan aminopilin (10 mg/kg, 3-4x/hari untuk anjing; 5 mg/kg, 2-3x untuk kucing). Cara kerja obat ini dengan cara memecah secara perlahan cAMP sehingga otot polos bronkus relaksasi, dan meningkatkan kontraksi diafragma; (b) Simpatomimetik : terbutalin (2.5 mg/kg, 3x/hari untuk anjing; 1.25mg/kg, 2x/hari untuk kucing), metaproterenol, isoproterenol. Cara kerja obat ini sebagai agonis reseptor beta-adrenergik.

2. Supressant batuk

Obat antitussive dikelompokkan menjadi dua katagori yaitu : (a) Kerja central : hidrocodone bitartat ( 2.5-10 mg, 2-3x/hari, po), butorphanol tartate / torbutrol (0.5/kg, 2x/hari, po; 0.05/kg 2x/hari, Sc). Cara kerja obat ini adalah menekan pusat batuk di medula oblongata, dan dengan efek samping hewan tertidur. (b) Kerja perifer, dengan cara meningkatkan nilai ambang reseptor batuk.

3. Ekspectorant

Obat ini meningkatkan volume cairan saluran nafas sehingga merangsang pengeluaran eksudat dari saluran nafas. Keberhasilan obat ini pada pasien batuk masih diragukan.

4. Antihistamin

Walaupun banyak digunakan pada obat batuk yang telah beredar, tetapi secara umum tidak memberikan efek antitusiv yang substansial. Kejelekan obat ini dapat menyebabkan kekeringan pada mukosa. Sedangkan kebaikan obat ini dapat menyebabkan hewan mengantuk.

5. Terapi aerosol

Terapi aerosol dilakukan untuk mencairkan dahak yang mengental terutama yang di bronkhial tree. Partikel aerosol yang diperlukan berukuran antara 1 – 2 mikron. Dalam melakukan nebulisasi, alat nebulizer yang digunakan perlu dimodifikasi supaya dapat menutupi muka dari pasien. Obat yang sering digunakan dalam nebulisasi adalah gentamisin dalam larutan saline 0. 45% atau 0.9%. Nebulisasi juga dapat dilakukan dirumah yaitu di kamar mandi dengan shower panas.

Daftar Pustaka

Lorenz, MD. LM Cornelius. 1987. Small Animal Medical Diagnosis. JB Lippincott Co. New York.

2. DISPNEA

Definisi

Dispnea adalah kondisi kesulitan atau kesusahan dalam bernafas.

Patofisiologi

Dispnea adalah kondisi patologis, tetapi takipnea (meningkatnya rata-rata bernafas) dapat bersifat fisiologis seperti pada kondisi kebanyakan bergerak, udara panas, dan gelisah. Disamping itu dapat juga bersifat patologis. Kesulitan bernafas dapat terjadi karena alasan sebagai berikut : keperluan tambahan oksigen; kompensasi metabolik acidosis; peningkatan suhu lingkungan (heatstroke); kerusakan atau penyakit pusat respirasi di sistem saraf pusat (CNS); kelemahan otot respirasi atau disfungsi nervus motor dari respirasi; dan rasa sakit dari organ yang terlibat dalam bernafas seperti pleura, nervus spinal, otot respirasi, dan tulang rusuk.

Kekurangan pemenuhan oksigen dapat disebabkan oleh kekurangan oksigen di lingkungan, gangguan transfer oksigen dari lingkungan ke dalam darah atau menurunnya kemampuan pengangkutan oksigen oleh darah (anemia, methemoglobinemia). Kompensasi terhadap metabolik asidosis menyebabkan peningkatan frekuensi dan kedalaman nafas.

RENCANA DIAGNOSTIK

Sejarah dan Pengamatan Fisik

Sejarah penyakit yang ditanyakan meliputi pertanyaan mengenai apakah dispnea awalnya terjadi secara tiba-tiba atau terjadi secara perlahan-lahan dan terus bertambah berat. Tanyakan apakah hewan selalu dikandangkan atau dibawah pengawasan seseorang sehingga memungkinkan mendapat trauma. Beberapa breed anjing lebih mudah mendapatkan trauma yang menyebabkan dispnea. Misalnya anjing brachicephalik lebih mudah mendapat trauma pada saluran nafas atas, dan anjing pemburu mudah menderita dispnea karena jamur. Umur anjing juga perlu diperhatikan. Karena tumor lebih sering pada anjing tua.

Pengamatan yang teliti terhadap pola respirasi akan sangat membantu dalam melokalisasi penyebab dispnea. Gangguan saluran nafas bagian atas diikuti dengan dispnea inspirasi yang ditandai dengan gejala khas seperti jarak antar inspirasi, kesusahan dalam inspirasi, waktu inspirasi singkat dan terlihat fase ekspirasi mudah. Penyakit pada saluran nafas bawah menyebabkan dispnea inspirasi dan ekspirasi dengan rata-rata respirasi cepat.

Evaluasi laboratorium

Pemeriksaan laboratorium meliputi hitung darah lengkap, biokimia serum, analisis urin.

Radiografi

Pemeriksaan radiografi meliputi pemeriksaan kepala dan torak

Sitologi

Pemeriksaan ini dilakukan jika teramati terjadi kebocoran pleura saat radiografi. Toracocentesis dilakukan secara aseptis dan cairan yang diperoleh diamati. Kandungan protein diukur dengan refractometri, hitung sel dan differential sel harus dicatat dengan baik, dan juga perlu dilakukan kultur bakteri dan jamur dari cairan itu.

TERAPI SIMTOMATIS

Terapi simtomatis pada penderita dispnea tergantung dari penyebab penyakit. Perlu diingat hewan yang dispnea tidak boleh terlalu stres. Pemberian oksigen dengan corong oksigen, penutup kepala atau tube nasal sangat diperlukan.

Penting diperhatikan apakah anjing itu terserang penyakit yang bersifat restriktif seperti bocor pada pleura, pneumotorak, atau ada massa intratorak. Edema pulmonum harus segera ditangani dan tidak boleh ditunda. Cairan pleura dapat dikeluarkan dengan torakocentesis menggunakan jarum 22G dengan panjang 1 inchi, dengan siring 20 ml. Alternatif dapat digunakan cateter intravenous polietilen. Udara pada pleura juga dapat dikeluarkan dengan cara yang sama.

Hipoalbuminemia sering terjadi akibat pengeluaran cairan pleura dan mempercepat kebocoran pleura. Jika pengeluaran cairan terlalu banyak, konsentrasi albumin serum harus diukur minimal dua kali seminggu. Jika konsentrasi serum albumin berkurang sampai dibawah 2.0 g/dl jumlah cairan pleura yang dikeluarkan harus dikurangi. Penggunaan furosemida dapat membantu mengkontrol pembentukan cairan pleura. Transfusi plasma atau darah sangat diperlukan pada penderita hipoalbuminemia (serum albumin < 1.0 g/dl).

Bronkodilatator sangat membantu jika gangguan terjadi pada saluran nafas bagian bawah, dan gangguan jantung. Penggunaan bronkodilatator golongan teopilin akan meningkatkan kontraksi diafragma, meningkatkan fungsi mucociliari dari mukosa respirasi, dan mengakibatkan diuresis ringan.

Pengobatan sistemik pada penderita dispnea, diberikan furosemida secara intravena atau oral. Efek samping dari furosemida adalah dehidrasi, azotemia, dan hipokalemia, untuk itu, obat digunakan dengan dosis minimal dan dalam jangka waktu singkat (2 – 3 hari).

3. HEMOPTYSIS

Definisi

Hemoptysis adalah batuk diikuti dengan keluarnya darah.

Patofisiologi

Hemoptysis disebabkan oleh satu atau lebih dari kerusakan berikut : kerusakan buluh darah; hipertensi pulmonum hebat; dan masalah pembekuan darah. Kerusakan buluh darah dapat disebabkan oleh peradangan, nekrosis, neoplasia atau trauma. Hipertensi pulmonum umumnya disebabkan oleh tromboembolisme pulmonum, gangguan ventrikuler kiri. Gangguan pembekuan darah diakibatkan oleh abnormalitas faktor pembeku atau platelet.

Hemoptysis menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah sedikit tetapi jika berlangsung kronis dapat berkembang jadi anemia, aspiksasi dan hipovolemia.

Rencana Diagnosis

Sejarah dan Pengamatan Fisik

Sebelum melakukan pengobatan terhadap hemoptysis, perlu dilakukan lokalisasi dari sumber perdarahan. Ludah yang bercampur darah disebabkan karena perdarahan pada nasoparing, respirasi atau gastrointestinal.

Pertanyaan yang teliti pada pemilik akan membantu diagnosis. Bersih yang persisten dan parah dengan nasal discharge bercampur darah sebelum hemoptysis sebagai indikasi kerusakan terjadi pada rongga hidung. Sejarah dengan batuk berat dan dispnea sebagai indikasi kerusakan pada saluran nafas.

Pengamatan fisik dilakukan secara menyeluruh pada semua organ yang meliputi rongga mulut, dan nasoparing. Auskultasi torak untuk konfirmasi terjadinya gangguan jantung.

Evaluasi Laboratorium

Evaluasi laboratorium dilakukan jika hemoptysis tidak massive dan mengancam jiwa pasien, dan pemeriksaan dikonfirmasi dengan radiografi. Pemeriksaan laboratorium meliputi hitung darah lengkap, platelet, biokimia serum, urinalisis, uji cacing jantung, pembekuan darah, analisis gas darah, electrocardiogram, transtracheal wash, bronchoscopi, dan sampel aspirasi. Pada hemoptysis yang mengancam jiwa pasien, pemeriksaan laboratorium ditunda sampai kondisi pasien stabil.

Terapi simtomatis

Untuk hemoptysis ringan dan tidak mengancam jiwa pasien pengobatan simtomatis dapat dilakukan dengan pemberian supressant batuk, dan bronchodilatator. Pasien harus dijaga supaya tetap tenang, dibantu dengan pemberian obat penenang.

Pada pasien hemoptysis yang terancam jiwanya, tindakan emergensi harus dilakukan untuk membantu jiwa pasien. Pertama yang perlu diperhatikan yaitu sirkulasi udara tetap lancar, restoring volume darah, tindakan bedah untuk menghentikan perdarahan.

4.SUARA PARU ABNORMAL

Definisi

Suara abnormal paru didengar saat auskultasi di atas torak pada beberapa pasien yang menderita penyakit saluran nafas.

Patofisiologi

Asal secara pasti suara normal nafas tidak dipahami secara baik. Suara paru dipercaya dihasilkan oleh goyangan pada jaringan respirasi yang padat dan oleh kecepatan fluktuasi tekanan gas. Suara paru dihasilkan dari tersaringnya udara atau masuknya udara ke saluran yang lebih kecil dari luar paru menuju dinding torak. Selanjutnya suara normal paru terdengar saat auskultasi torak yang terdiri atas suara individu yang bergabung dari berbagai tempat di paru-paru. Suara normal paru awalnya berasal dari trakea, lobar dan bronki segmental. Suara itu memiliki gambaran yang berbeda dari suara normal paru yang berasal dari alveoli. Aliran pada acinar dan level alveolar adalah berlapis-lapis dengan velositi rendah, tetapi tidak dihasilkan suara turbulen.

Suara normal paru berbeda sesuai dengan umur dari hewan, pola respirasi, ketebalan dinding dada, dan tempat dilakukan auskultasi. Intensitas suara pada hewan muda dan kurus adalah keras, jelas terdengar karena sedikit yang dapat melemahkan suara itu dan sedikit yang mempengaruhi alveoli. Pada hewan tua dan gemuk, suara normal paru sulit terdeteksi. Variasi dari suara normal paru dapat disebabkan oleh perubahan dalam pola respirasi seperti terengah-engah (meningkatkan intensitas), dan kelemahan neuromuskular (menurunkan intensitas). Suara abnormal dihasilkan dari proses patologis dalam trakeobroncial tree dan paru yang disebut dengan suara adventitious. Suara adventitious dapat bersifat diskontinyu (crackles) dan kontinyu (wheeze).

Crackles adalah suara eksplosif intermiten yang tidak teratur sehingga dikenal sebagai tone musical. Crackles sering dikarakterisasi sebagai suara kasar dan lembut. Suara crackles kasar seperti suara bubbling dan gurgling, sedangkan suara crackles lembut seperti suara velero atau tipe celophane. Salah satu mekanisme munculnya suara crackles kasar adalah meledaknya gelembung udara dalam cairan sekresi di saluran nafas, sedangkan crackles lembut dihasilkan oleh penyakit pada paru akibat beberapa saluran nafas tertutup saat inspirasi kemudian terbuka secara tiba-tiba. Suara crackles kasar ditemukan pada edema pulmonum, bronkitis dan bronkopneumonia yang diikuti terbentuknya cairan pada saluran nafas. Crackles lembut terdengar saat saluran terbuka secara tiba-tiba selama inspirasi, karena pencapaian keseimbangan yang cepat antara tekanan gas pada bagian atas dan bawah dari saluran nafas yang tersumbat.

Tabel 4. Penyebab Suara Paru Abnormal Pada Anjing Dan Kucing

CRACKLES WHEEZE Suara tak terdengar
Kasar Inspiratori Pneumotorak
Edema pulmonum berat Obstruksi laring Efusi pleura
Gagal jantung kiri Laringitis nekrotik Gagal jantung kanan
Hipoalbuminemia Paralisis laring Tumor
Bronkhopneumonia Edema laring Hipoalbuminemia
Trauma Kolaps laring Hemotorak
Lembut Stenosis trakea Chylotorak
Edema institialis pulmon um Benda asing pada trakea Pyotorak
Pneumonia institialis kronis Kolaps trakea ekstratorak Felin infectious peritonitis
Fibrosis institialis kronis Compresión trakea intraluminal Hernia diagframatika
  Tumor Pemadatan paru
  Limpadenopati Abses
  Ekspirasi Granuloma
  Bronchitis Tumor
  Alergi Torsio lobus paru
  Brokopneumnia Kegemukan
  Copd Kelemahan neuromuskular
  Cacing paru Paralisis diagfragma
  Cacing jantung  

Wheeze adalah musical kontinyu atau suara whistling dihasilkan oleh terlepasnya udara melalui saluran yang sempit dan menyebabkan fibrasi regular atau penyempitan dinding saluran. Suara wheeze akan terdengar jika lumen dari saluran nafas menyempit. Jika kondisi baik, dinding saluran nafas akan bergetar diantara saat membuka dan menutup, akan menghasilkan suara kontinyu. Amplitudo, puncak, dan durasi wheeze tergantung atas velositi aliran udara dan bagian mekanis aliran udara.

Wheeze lebih umum terjadi pada saat ekspirasi dibandingkan inspirasi. Penyebab wheeze ekspirasi adalah bronkospasmus, edema mucosa, penumpukan mucus, benda asing, tumor. Wheeze inspirasi juga disebut stridor, hal ini berhubungan dengan stenosis saluran nafas atas, trakea, atau bronkhi.

Rencana Diagnosis

Sejarah dan Pemeriksaan Fisik

Gejala yang sering dilaporkan oleh pemilik hewan dengan suara paru abnormal adalah batuk, kesulitan bernafas, dan wheeze. Wheezing yang dijelaskan oleh pemilik sering suara abnormal yang berasal dari nasal dan saluran nafas atas. Pertanyaan yang teliti akan mengurangi kesalahan.

Pemeriksaan fisik dilakukan pada tempat tenang, sehingga auskultasi dapat dilakukan dengan baik. Suara paru dan jantung harus dievaluasi pada posisi hewan berdiri. Jika hewan terengah-engah, maka mulut pasien harus ditutup saat auskultasi. Suara mendengkur pada kucing dapat dihentikan sebentar dengan cara menekan laringnya atau dengan mengalihkan perhatian kucing dengan cara mengalirkan air pada kran. Suara berisik kulit dan rambut dapat dikurangi saat auskultasi dengan cara membasahi kulit dan rambut pada tempat auskultasi atau memegang kepala stetoskup dengan kuat menempel ke dinding dada. Kedua belah dada harus diauskultasi.

Evaluasi Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium pada pasien dengan suara nafas abnormal sama seperti pada pasien batuk dan dispnea.

Terapi Simtomatis

Terapi simtomatis pada pasien dengan suara paru abnormal tidak perlu dilakukan.

5. BERSIN DAN LELERAN HIDUNG

Definisi

Bersin adalah reflek superfisial yang berasal dari reaksi pada lapisan membran mukosa pada rongga hidung dan dengan mudah dimunculkan oleh rangsangan kimia atau mekanis. Bersin terjadi akibat pengeluaran secara kuat udara melalui saluran nafas dengan kecepatan yang kencang. Hal ini untuk membantu membersihkan saluran nafas.

Leleran hidung adalah material yang dikeluarkan dari saluran nafas melalui nares eksternal. Leleran ini diklasifikasikan berdasarkan sifat fisik yaitu serous, mukoid, purulen, dan haemorrhagik, atau kombinasi dari ketiganya. Pakan dan larutan yang diminum juga dapat keluar bersama leleran itu saat bersin. Leleran hidung dapat secara unilateral atau bilateral, kontinyu atau intermiten, atau hanya saat bersin.

Patofisiologi

Impuls afferen dihasilkan dari rangsangan pada membran mukosa hidung, dihantarkan melalui nervus trigeminus menuju medula di otak, pada proses ini diawali dengan serentetan kejadian secara otomatis. Setelah terjadi inspirasi secara cepat lipatan vocal dan epiglotis akan tertutup, diikuti dengan kontraksi kuat dari abdomen, intercostae eksternal, dan otot respirasi yang lain yang mengakibatkan peningkatan tekanan udara di saluran respirasi. Kemudian lipatan vocal dan epiglotis terbuka secara cepat diikuti pelepasan udara sehingga terjadi bersin.

Bersin dan leleran hidung timbul diawali dengan kondisi yang secara langsung merangsang rongga hidung dan secara skunder karena rangsangan pada paring atau penyakit saluran respirasi bawah. Fungsi rongga hidung meliputi sebagai organ pencium, filtrasi, penghangat, melembabkan, dan tempat aliran udara. Rongga hidung tersusun atas tulang kartilago turbinate yang ditutupi oleh epitel pseudocolumnar bersilia. Epitel itu adalah epitel perifer respirasi primer dan pada organ pencium caudomedial dan caudodorsal. Lamina propria dari saluran respirasi tersusun atas glandula serous, mukous, dan campuran tubuloalveolar. Sel goblet juga ada di rongga hidung. Glandula bagian lateral hidung bersifat serous yang berfungsi sebagai mengatur panas. Sinus paranasal, frontal, dan spenoidal berhubungan dengan saluran nafas dan kadang-kadang dapat bertindak sebagai penyebab primer atau skunder timbulnya bersin dan leleran hidung.

 

Banyak kondisi peradangan pada mucosa hidung yang menyebabkan peningkatan sekresi glandula yang awalnya serous kemudian menjadi mukoid atau mukopurulen setelah ada infeksi bakteri. Hemorrhagi dapat terjadi karena ada trauma, coagulopati, dan kerusakan mukosa yang banyak vascularisasinya, erosi kronis, atau penyakit invasiv.

Penyingkiran dan Rencana Diagnosis

Kasus bersin dan leleran hidung pada anjing dan kucing dapat dilihat pada Tabel 5. Signalemen, sejarah, pengamatan fisik, dan karakterisasi fisik leleran hidung yang ada akan membantu dokter hewan dalam mendiagnosis dan pengobatan yang tepat.

Signalemen

Signalemen dari hewan akan membantu menentukan etiologi penyakit. Hewan muda, sangat tua, dan imunosupresif cendrung lebih mudah terserang penyakit. Gejala klinis yang berhubungan dengan penyakit kongenital sering dijumpai pada hewan muda. Breed brachycephalic sering menderita leleran hidung karena mudah menderita stenosis hidung atau dapat sebagai akibat skunder karena hewan tidak mampu mengendalikan ingesta atau sekresi respirasi di daerah paringeal akibat palatum lunak yang memanjang. Tumor hidung dan penyakit gigi sering dijumpai pada anjing dan kucing tua. Breed anjing médium dan besar dengan hidung yang panjang lebih sering menderita tumor hidung.

Sejarah

Bersin akut dan leleran hidung diikuti dengan leleran mata dipercaya karena infeksi virus. Abnormalitas kongenital atau gangguan paringeal akan terlihat gejalanya setelah makan dan minum. Bersin dan leleran hidung yang kambuh lagi setelah pengobatan antibiotik dipercaya sebagai rhinitis skunder karena bakteri dengan berbagai etiologi primer seperti trauma, alergi, benda asing, infeksi Jamur, dan tumor. Leleran hidung dengan sifat serous sampai mukoid secara bilateral dan kejadiannya bersifat musiman diikuti dengan gejala leleran mata itu sebagai akibat rhinitis alergi. Benda asing pada hidung menyebabkan bersin akut diikuti dengan gerakan pawing (menggaruk hidung) dan menggosokan hidung pada tanah oleh anjing. Infeksi jamur dan tumor dapat ditelusuri dari sejarah dari perkembangan leleran hidung dengan perubahan perkembangan yang pelan dari sifat serous kemudian menjadi mukopurulen dan berlanjut hemorrhagi. Hewan dengan sejarah penyakit menderita otitis media/ externa akan diikuti dengan leleran hidung dan bersin karena ada hubungan antara telinga media dengan nasoparing melalui tube eusthacian. Gagging sering dilaporkan oleh pemilik pada anjing yang menderita penyakit paring.

Pengamatan Fisik

Pengamatan fisik yang dilakukan pada penderita bersin dan leleran hidung meliputi pengamatan terhadap sistem respirasi, mata, dan rongga nasoparing. Pengamatan pada kepala dan mulut untuk mengetahui kelainan seperti stenosis nares, cleft palatum, fistula oronasal traumatik, otitis externa dan media, penyakit gigi, dan penjuluran palatum lunak, kemerahan oroparing dan tonsil, pembesaran tonsil dapat disebabkan oleh berbagai penyakit yang memicu terjadinya bersin dan timbulnya leleran hidung. Kerusakan palatum sering disebabkan oleh infeksi jamur. Fraktur tulang hidung juga dapat dipalpasi pada pemeriksaan kepala. Pneumonyssus caninum sering juga ditandai dengan pembesaran nares eksternal.

Gangguan saluran nafas atas seperti penyakit infeksi, alergi, deformitas kepala menyebabkan leleran mata. Feline viral rhinotracheitis menyebabkan ulcerasi cornea, anorexia, ptyalisme dan ulcerasi oral. Penyakit canine distemper dan cryptococcosis menyebabkan corioretinitis, sedangkan cryptococcosis juga menyebabkan uveitis anterior.

Leleran hidung unilateral diakibatkan oleh tumor, penyakit jamur, benda asing, abses akar gigi, dan fistula oronasal. Tumor yang agresif juga bisa menyebabkan leleran bilateral. Leleran bilateral sering karena penyakit infeksi, kelainan kongenital, penyakit paring, rinitis alergi. Suara pekak saat perkusi rongga hidung dan sinus para nasal dapat disebabkan oleh beberapa penyakit tetapi yang umum oleh jamur.

Suara parenkim paru dapat abnormal karena meluasnya infeksi jamur dan tumor, penyakit primer paru, dan penyakit pada saluran nafas atas dan bawah. Koagulopati menunjukan gejala perdarahan disekitar gangguan berupa perdarahan ptekie dan ekimose kulit dan membran mukosa.

Tabel 5. Penyebab Umum Bersin dan Leleran Hidung Anjing dan Kucing

Penyebab signalemen Sejarah Pemeriksaan fisik leleran Rencana diagnosis
Kongenital          
Stenosis nares Anjing brachicephalic Ngorok Stenosis nares Serous – mukoid Pemeriksaan fisik
Cleft palatum Muda, semua breed Kesulitan menyusu, susu keluar dari hidung, leleran kronis setelah sapih Palatum ada celah, suara paru abnormal Ada pakan dan cairan, mukopurulen, bilateral Pemeriksaan fisik
Pemanjangan palatum lunak Anjing brachicephalic Gagging dan snoring setelah makan Kemerahan paring dan tonsil Pakan atau cairan, serous – mukopurulen, bilateral Pemeriksaan fisik
Dispagia Semua breed, kongenital pada muda, dapatan pada yang tua Batuk, gagging, seperti menelan sesuatu Kemerahan paring, tonsil dan suara abnormal paru Pakan atau cairan, serous – mukopurulen, bilateral Pemeriksaan fisik, flouroscopi
Infeksi virus          
FVR Semua breed, semua umur, lebih umum pada muda Kontak dengan hewan lain, vaksinasi tidak lengkap, anoreksia, ptylisme Ulser mulut, konjungtivitis, suara paru abnormal, demam Mukopurulen FAT
Feline calicivirus Semua breed, semua umur Kontak dengan hewan lain, vaksinasi tidak lengkap, anoreksia, ptylisme Kontak dengan hewan lain, vaksinasi tidak lengkap, anoreksia, ptylisme Ulser nasal dan oral, konjungtivitis, suara paru abnormal, demam mukopurulen Gejala klinis
Reovirus Pada kucing semua breed dan umur Gejala ringan Demam jarang, gejala pada mata Jarang ada Laboratorium
Canine distemper Semua breed dan umur Kontak dengan hewan lain, vaksinasi tidak lengkap, banyak organ terserang Demam, muntah, diare, suara paru abnormal, gejala saraf, gangguan mata, hiperkeratosis kaki Mukopurulen Gejala klinis, serologi, FAT, hitung darah lengkap
Bakteri          
Berbagai spesies Semua breed Bersih kronis, respirasi seperti menyedot Aliran udara menurun, perkusi pekak, anoreksia, dehidrasi Mukopurulen, bilateral Gejala klinis, sejarah, kultur
Chlamydia Kucing semua breed, umur tapi sering pada muda Kontak dengan hewan lain, tanpa gejala polisistemik Konjungtivitis ringan Serous – mukopurulen, bilateral Sitologi
Mycoplasma Semua breed dan umur Tanpa gejala polisistemik Konjungtivitis ringan Serous Sitologi
Jamur          
Aspergillus dan penicillum Semua breed, jarang pada bracicephalic Progresif Penurunan aliran udara, perkusi pekak, anoreksia Mukoid, mukopurulen Sitologi, kultur, serologi
Cryptococcus neoformans Anjing dan kucing semua umur Gejala nafas atas, polisistemik progresif Demam, gejala saraf, suara paru abnormal, gangguan mata, Mukoid – mukopurulen Sitologi, kultur, serologi
Trichospora sp     Polyps    
Rhinosporidium seebri     Polyps    
Parasit          
Linguatula serrata Anjing semua umur Bersin ringan Tidak ada Serous Sitologi
Pneumonyssus caninum Anjing semua umur Bersin ringan Tidak ada Serous Sitologi
Neoplasia Umum pada anjing jarang di kucing, umum pada tua Progresif Penurunan aliran udara Progresif dari mukopurulen – hemorrhagi Sitologi, biopsi, radiografi
Alergi Pada anjing dan kucing umur muda Akut dan musiman Konjungtivitis, dermatologik Serous Sejarah
Polyps Kucing muda Gagging, dispagia Kemerahan paring, dan tonsil Serous – mukopurulen Pengamatan paring belakang
Penyakit gigi Semua hewan Halitosis, bersin paroksima, menggaruk muka Fistula, kalkuli gigi, abses Unilateral mukopurulen Radiografi kepala
Otitis media Semua hewan Gejala ringan seperti otitis eksterna Keratokonjungtivitis sicca Kering dan keras Otoscopi, kultur
Trauma Semua hewan Akut Fraktur saat palpasi Hemorrhagi Sejarah, radiografi
Benda asing Semua hewan Bersin paroksima dan akut, menjulurkan kepala, menggoyangkan kepala Nonspesifik serous Pemeriksaan fisik
Kelainan pembekuan Semua hewan Perdarahan tanpa trauma Membran mukosa pucat Hemorrhagi Hitung platelet, waktu pembekuan, faktor VIII
           

Karakteristik Fisik Leleran Hidung

Leleran hidung serous timbul pada stadium awal penyakit pada rongga hidung. Leleran hidung serous yang kontinyu dan dalam jangka waktu lama sebagai tanda penyakit iritasi seperti alergi atau parasit. Pada penyakit infeksi virus diikuti infeksi skunder oleh bakteri leleran hidung bersifat mukopurulen.

Rencana Diagnosis

Prosedur diagnosis yang ditegakkan meliputi sitologi, serologi, kultur dan uji sensitivitas, pemeriksaan oral dan nasal dalam kondisi hewan terbius, radiografi nasal, uji FAT, koaglutinasi, endoscopi, dan biopsi.

Sitologi untuk mendeteksi jamur, sel tumor, atau parasit. Swab hidung secara langsung akan membantu diagnosis, jika penyakit lebih dalam maka perlu dilakukan flushing nasal dengan larutan steril. Aliran udara dihidung dapat disemikuantitatifkan dengan cara meletakan kaca didepan hidung dan dievaluasi terbentuknya embun pada kaca.

Uji FAT (flourescen antibodi teknik) untuk deteksi elemen virus distemper, feline viral rhinotrakeitis, clamidya, dan mycoplasma.

Kultur bateri dan jamur untuk deteksi jamur aspergillus dan penicillium, juga untuk diagnosis pasti dari bakteri penyebab.

Serologi untuk deteksi antibodi yang bersirkulasi terhadap aspergillus, penicillium, dan cryptococcus.

Uji koagulasi dilakukan jika ada perdarahan. Uji ini meliputi uji hitung platelet, waktu pembekuan darah, dan waktu perdarahan. Pada beberapa breed anjing , seperti doberman pincher yang sering mengalami perdarahan tiba-tiba, perlu dilakukan uji terhadap faktor VIII untuk membantu penyingkiran penyakit willebrand’s.

Terapi Simtomatis

Kontrol primer dari bersin adalah menyingkirkan penyebabnya. Perlu penajaman dalam keakuratan diagnosis. Keakuratan pengobatan tergantung ketepatan diagnosis. Pemberian obat untuk penyakit respirasi dilakukan dengan cara sistemik, topikal, dan nebulizasi.

Decongesta dapat digunakan secara topikal dan sistemik untuk pengobatan leleran hidung. Obat yang sering digunakan adalah oxymethazoline HCl topikal dan pseudoephedrine (30 mg setiap 8 – 12 jam secara oral). Obat ini menyebabkan vasokontriksi vaskular hidung karena efek simpatomimetiknya. Penyakit jantung sebagai kontraindikasi dari pengobatan ini. Efek samping dari penggunaan dekongestan topikal adalah terjadi kongesti, hal ini dapat ditangulangi dengan penggunaan setiap 2 – 3 hari.

Antibiotik dapat diberikan secara topikal, sistemik, atau melalui nebulizasi dan sangat baik untuk leleran yang mukopurulen. Beberapa peneliti melaporkan penggunaan obat tetes mata sangat baik untuk pemberisan intra nasal pada kucing. Masalah besar penggunaan antibiotik adalah kesulitan penetrasi obat ke dalam sekresi hidung yang tebal.

Kortikosteroid sangat baik untuk rhinitis alergi, penggunaannya kontraindikasi pada penyakit infeksi sehingga tidak baik untuk leleran mukopurulen.

Perdarahan hidung dapat dihentikan dengan kompres, 4-5 tetes 1: 50.000 epineprin secara intranasal, tetapi perlu diawasi karena berefek terhadap jantung.