Learning Objective

  1. 1.      Mengetahui  Metabolisme Ca dan P.
  2. 2.      Mengetahui Tentang Osteodystrophia Fibrosa.
  3. 3.      Mengetahui Komposisi Ransum Kuda.

Pembahasan

Mengetahui Metabolisme Ca dan P

Beberapa jenis mineral yang esensial pada kuda antara lain Ca, P, Mg, K, Na, Cl, S, Cu, Ca, M, Se, Fe, I, Zn, Mn, dan mungkin F. Tetapi yang telah dipelajari khusus untuk kuda antara lain Ca, P, Mg, NaCl.

  1. Ca dan P

Mineral Ca dan P pada hewan muda berfungsi untuk membentuk tulang dan gigi. Pada hewan yang sudah tua atau dewasa berfungsi untuk memelihara sistem pertulangan. Dari analisis tubuh kuda (tanpa lemak) didapatkan agar kalsium rata – rata 20,1 gram dan fosfor rata – rata 10,2. Kadar kalsium dan fosfor pada hewan muda lebih kecil dari hewan tua karena pada hewan muda banyak mengandung urat daging yang lebih banyak dari hewan tua (Coumbe, 2001).

Penyerapan Ca dan P

Pada keadaan normal, penyerapan kalsium terjadi pada setengah bagian proksimal usus kecil dan sangat sedikit di usus besar. Penyerapan ini terjadi dengan dua cara, yaitu pasif dengan difusi biasa dan aktif (memerlukan bantuan kalsium binding protein atau CBP). Penyerapan aktif dipengaruhi oleh vitamin D. Susunan amino dari protein sama yang didapat dari sapi, tetapi pada kuda memiliki kuantitas yang lebih tinggi.

Penyerapan fosfor terjadi di usus besar, sejumlah fosfor disekresi ke dalam sekum dan kolon ventralis yang berguna sebagai buffer VFA yang terbentuk di usus besar. Beberapa fosfor yang disekresikan tadi diserap kembali di kolon dorsal dan kolon kecil (penyerapan kolon efektif).

Faktor yang mempengaruhi penyerapan Ca da P:

Kuantitas kedua mineral dalam makanan

Keseimbangan antara kedua mineral

Adanya integrasi dari mineral lain

Metabolisme vitamin C

Adanya vitamin D yang cukup

Protein dan asam amino yang cukup

Umur ternak

Tabel kandungan Ca dan P pada beberapa sumber bahan makanan

Bahan makanan

Ca (%)

P (%)

  1. Jagung
  2. Hay dari rumput thymoty
  3. Hay dari rumput alfalfa
  4. Bungkil
  5. Produk air susu
  6. Dedak Gandum
  7. Kapur
  8. Dikalsium-fosfat
  9. Tepung tulang
  10. Monosodium fosfat

70

77

68

77

67

73

71

38

42

38

45

57

34

44

46

47

(Hitz, et al.1972).

            Hubungan antara kadar Ca dan P ransum dengan sistem pertulangan

Keseimbangan Ca dalam tulang lebih banyak tergantung pada makanan. Semakin banyak Ca yang dikonsumsi maka banyak pula retensi Ca. Kadar P yang tinggi akan mempercepa deposit dan mobilisasi Ca ke dan dari tulang. Tingginya kadar P dan rendahnya Ca dalam ransum akan menyebabkan nutritional secondary hiperparatiroidism atau NSH. Kadar Ca yang normal dibutuhkan untuk beberapa proses metabolisme berjumlah tertentu, maka Ca yang ada dalam tulang dimobilisasi atas pengaruh hormon paratiroid. Gejala klinis yang dapat terlihat pada kondisi NSH antara lain kelemahan salah satu atau lebih dari anggota badan dan pembesaran tulang -tulang daerah muka, dan akhirnya Ca diganti dengan tenunan fibrosa. Pemberian ransum biji – bijian yang tinggi tanpa diberikan suplemen kalsium Ca akan menyebabkan NSH.

Kadar Ca yang rendah dalam darah (4 mg persen) pada kuda induk dan sedang berproduksi air susu biasanya juga terjadi hipomagnesium. Kadar Ca yang tinggi (2 %) dapat menganggu pencernaan dari magnesium, mangan, besi. Tetapi tidak menganggu pencernaan dari fosfor dan tembaga. Hal ini juga menyebabkan perbedaan kepadatan tulang – tulang mandibula dan tuberkalsi.

 

Gambar Mekanisme Metabolisme Ca Dan P.

Sinar UV akan mengaktifkan vit D dimulai proses hidroksilasi (Proses penambahan gugus OH) 25-OHase di Liver lalu mengalami proses hidroksilasi kembali menjadi 1-OHase diginjal bila di stimulasi oleh PTH, PTH sebelumnya akan di hambat oleh (1,25(OH)2D)  calcitriol akan menjadi 24-OHase di empedu yang akan mengekskresikan asam calcitroic dalam urin dan PTH dalam ginjal akan merelease Ca dan P ke tulang dan ke dalam darah melalui absorbsi calcitriol (1,25(OH)2D).di intestinum.

 

Mengetahui Tentang Osteodystrophia Fibrosa (Bran Disease, Miller’s Disease, Big Head Disease, Hyperparathiroidisme Nutrisional)

 Osteodystrophia fibrosa merupakan penyakit yang disebabkan oleh rendahnya mineral kalsium, dan dipercepat oleh terlalu tingginya mineral fosfor dalam ransum hewan yang diberikan dalam jangka panjang.

Etiologi

Pada kuda pacu, penyakit biasanya terjadi karena kesalahan ransum yang seharusnya relative rendah energi diberikan ransum untuk latihan dan berpacu. Kuda-kuda andong tidak digembalakan, kekurangan Ca dalam ransumnya menyebabkan penyakit ini terjadi.

Kuda dipadangan tertentu mengalami secondary calcium deficiency, disebabkan makan rumput Cenchrus cilliaris dan Panicum maximum dan lain-lain yang mengandung kadar oksalat tinggi, hingga ion Ca2+ terikat olehnya dan menyebabkan kekurangan kalsium baik didalam darah maupun tulang-tulangnya.

Gejala-gejala

Pembesaran dari maxilla dan mandibula berawal sebagai exostosis ringan, yang lama-lama kedua tulang rahang tersebut dapat berukuran 1,5-2 kali dari normalnya. Pada Kuda umur 1 tahun, gigi gerigi susu terlambat tanggal, namun gigi gerigi baru tumbuh dibelakang hingga terbentuk 2 baris gigi. Kuda nampak susah untuk mengunyah akibat malnutrisi akhirnya penderita menjadi kurus, lemah dan mudah terkena infeksi.

Diagnosis

  1. Pemeriksaan radiologi tulang tampak ada penurunan kepadatan masa tulang.
  2. Pemeriksaan biokimia darah tampak konsentrasi P dan Alkalin fosfatase meningkat.
  3. Pemeriksaan kadar osteokalsin (Gla protein) dan kadar hormon paratiroid.
  4. Pemeriksaan kadar Ca dan P dalam urin.
  5. Pemeriksaan Biopsi tulang.

Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan histologis untuk menilai volume tulang, formasi osteoid dan distribusi relatif dari resorpsi dan formasi embentukan tulang.

Prognosis

Pada kuda muda yang terdiagnosis dini mungkin masih dapat tertolong, meskipun memerlukan waktu berbulan-bulan, bila diagnosis berlangsung lama, maka prognosisnya infausta.

Terapi dan Pencegahan

Koreksi pakan, untuk pakan hijauan bagi kuda andong, yang terdiri dari bekatul dan batang maupun daun kacang tanah (Arachis hypogea) disarankan ditambah CaCO3, dalam bentuk gamping mati sebanyak 30-50 g/hari. Perbandingan Ca dan P harus 1,2:1 seperti disarankan oleh National Research Council. Kuda pacu yang tidak dalam latihan atau berlomba, harus diberi pakan yang tidak berlebihan mineral fosfornya.

Diferensial Diagnosis

 

                                                       R                                             ODF

Gambar Foto Sinar X pada Tulang; Normal (n), Osteoporosis (o), Rickets (R) dan Osteodystrophia fibrosa (ODF) (Menard et al, 1979; Stewart et al, 2010).

Perubahan patologi

Tampak pembesaran tulang maxilla dan madibila (Big Head Disease).

Tulang mandibula mengalami exostosis pada tepi bawahnya, seluruh sinus dari maxilla terisi jaringan fibrosa. Gigi-gigi molar dan premolar mengalami luxasi (goyah).

Permukaan sendi kaki depan dan belakang mengalamai erosi, dan cairan sendi menjdi keruh dan tercampur darah, Tulang kecil khusunya sesamoid mengalami pelarutan pada permukaannya, dan kadang ditemukan sudah pecah (fraktur). Exostosis ditemukan pada tulang tarsal ketiga dari sendi loncat. Ligamentum disekitar persendian juga robek (Subronto dan Ida Tjahajati, 2004).

 

Mengetahui Komposisi Ransum Kuda

Kuda membutuhkan makan rumput minimum 1% (satu persen) dari berat badannya. Pemberian rerumputan yang berlebihan juga kurang baik karena akan menyebabkan perut kuda buncit dan kurang atletis. Sumber energi yang dibutuhkan kuda berasal dari carbohidrat pada tanaman forages (cellulosa) rumput-rumputan, biji-bijian (grain), protein dan lemak. Rumput hijau memiliki kandungan energi dan nutrisi lebih tinggi dibanding yang sudah tua dan kering (Coumbe, 2001).

Ransum kuda sehari-hari terdiri atas:

Rumput hijau (forages) bisa dari jenis Alfa-alfa (kandungan calsium tinggi) maupun Timothy (kandungan calsium rendah)

Biji-bijian (grain) bisa dari jagung giling, bekatul, bren, oats, padi dll. Baik dalam bentuk pecah giling ataupun berupa pellete (Coumbe, 2001).

Mineral

Mineral lain yang dibutuhkan adalah unsur Calsium (Ca), Phosphore (P) untuk pertumbuhan tulang. Dua unsur Ca dan P ini harus berimbang agar perkembangan pertulangan kuda serta otot tidak terganggu. Untuk kuda yang dipelihara dalam kandang, makanan rumput hijau biasanya akan kurang, sehingga asupan unsur Calsium (Ca) akan sedikit. Biasanya anda memberikan ransum biji-bijian (grain) seperti: bren, jagung, bekatul, oats, padi dan lain-lain pada kuda. Biji-bijian ini banyak mengandung unsur P, akibatnya Ca dan P tidak berimbang. Untuk itu perlu ditambahkan Calsium pada ransum setiap hari. Kekurangan Calsium berakibat pada kerusakan tulang-tulang kaki dan otot.

Pakan tambahan

Pada saat kuda harus bekerja berat seperti saat bermain polo, endurance, pacuan 2 hari, eventing 3 hari, jumping, cross country dan lain-lain. Kebutuhan energi untuk kerja ini diambil dari karbohidrat yang tersimpan atau dari glikogen yang diturunkan dari asupan makanan biji-bijian (grain). Pada kondisi seperti ini kebutuhan energi itu tidak akan mencukupi apabila hanya disuplai dari makanan rumput hijau yang diberikan saja. Oleh karena itulah harus berikan oats, jagung atau campuran (mix), dan minyak bertenaga.

Vitamin

Pada saat oto-otot kuda melakukan konstraksi, energy dibakar bersama oxigen. Muncul unsur radikal bebas yang beracun sebagai akibat proses oksidasi ini. Vitamin E adalah unsur yang diperlukan untuk membuang radikal bebas ini. Kekurangan vitamin E kuda akan mengalami kram otot, kecapaian (fatigue), ngilu, kejang,tandon dll. Vitamin E akan mengembalikan kesehatan otot setelah berlatih ataupun bertanding. Vitamin B1 (thiamine) dibutuhkan untuk proses metabolisme dalam merubah carbohidrat yang diperoleh dari makanan menjadi tenaga untuk kerja otot. Biasanya diberikan lewat suntikan vitamin B complex.

Air bersih

Air bersih yang tidak terkontaminasi harus diberikan sebagai asupan sehari-hari secara bebas sesuai kebutuhannya, kuda membutuhkan air untuk proses metabolisme, sebagai pengganti keringat yang keluar saat bekerja atau berlari. Namun pemberian air ini diatur setelah melalui proses pendinginan badan, kira-kira 1 jam setelah kerja atau lari selesai. Berikan rumput setelah kuda selesai berlari sampai suhu badan betul-betul dingin normal kembali baru diperbolehkan minum air. Pemberian air setelah kerja keras dilakukan dapat menyebabkan gangguan seperti munculnya cholic dsb.

Suplemen

Pemberian Electrolytes yang berisi sodium, magnesium, potasium, cloride dan calsium sangat baik setelah kuda berlomba atau kerja keras. Mineral seperti sodium, magnesium, potasium, cloride dan calsium akan hilang bersama keringat yang mengucur deras saat kuda bekerja ataupun lewat air seni. Namun kuda yang diberikan makanan rumput hijau yang baik dan garam yang cukup akan bisa memenuhi kebutuhan electrolyte tersebut kecuali bila keringat yang keluar sangat berlebihan. Pemberian elektrolyte ini tidak boleh dicampurkan dengan air minum sehari-hari yang disajikan. Hanya diberikan setelah kerja keras saja untuk mengembalikan kondisi dengan cepat. Kuda sport dan pekerja berat sangat sensitive terhadap cholic sebagai akibat perubahan pola makan yang cepat, pemberian air minum dingin berlebihan saat kuda masih panas, rumput yang masih basah, atau kuda tidak aktif. Oleh karena itu merubah ransum harus dilakukan bertahap.

Tabel konsumsi yang diinginkan kuda

Kuda Dewasa

Forages

(% Berat Badan)

Consentrat (%Berat Badan)

Total (% Berat Badan)

Masa Maintenance

1.5 – 2.0

0 – 0.5

1.5 – 2.0

Kerja Ringan

1.0 – 2.0

0.5 – 1.0

1.5 – 2.5

Kerja Sedang

1.0 – 2.0

0.75 – 1.5

1.75 – 2.5

Kerja Keras

0.75 – 1.5

1.0 – 2.0

2.0 – 3.0

Sumber: NRC 1989 Note: Air dry feed 90% dry matter.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Coumbe, K.M. 2001. The Equine Veterinary Nursing Manual, Blackwell Science Ltd, London.

Lawrence, L.A. 2001. Feeding The Performance Horse, former Extension Equine Specialist at Washington State University, Washington State University Press, USA, http://cru.cahe.wsu.edu/CEPublications/eb1612/eb1612.pdf, Diakses 26 April 2011, Yogyakarta.

Menard, L., M. Marcoux and G. Halle. 1979. A Possible Case of Osteodystrophia               Fibrosa Cystica in a Horse, Can. Vet. J. 20: 242-243.

Parakkasi, A.2006. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak: Monogastrik Vol Ib. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta

Stewart, J., Olive, L., and Gary, W. 2010. Big Head in Horse, The Australian Equine Veterinarian Vol. 29, No.1, 2010.

Subronto dan Ida Tjahajati. 2004. Ilmu Penyakit Ternal II. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.