Urinary Tractus Infectious pada Anjing
Learning Objective

  1. Jelaskan tentang sindrom uremia.
  2. Mengetahui tentang cystitis, prostatitis, pyelonefritis (etiologi, pathogenesis, gejala klinis, diagnosis, terapi dan pencegahan) dan cara menganalisis penyakit di saluran perkencingan.

 

Ringkasan Belajar:

  1. Jelaskan tentang sindrom uremia.

Uremia merupakan keseluruhan kumpulan tanda dan gejala gagal ginjal kronis. Oleh karena itu istilah uremia sering dipakai untuk menyatakan keadaan kegagalan ginjal.

Uremia dapat dinyatakan sebagai azotemia yaitu peningkatan senyawa non protein nitrogen (NPN) dalam darah. Kondisi azotemia diperiksa dari BUN dan serum kreatinin.
Tergantung abnormalitas pada lokasi anatomis yang berbeda uremia bisa dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

  1. 1.      Uremia prerenal.


Uremia prerenal ditandai dengan aliran darah ke ginjal yang tidak mencukupi, antara lain dapat disebabkan oleh congestive heart failure atau hipovolemia akibat shock, dehidrasi atau insufisiensi korteks adrenal. Tergantung lama dan berat ischemia yang terjadi, pada ginjal dapat terjadi perubahan secara sekunder.
Tanda klinis uremia prerenal adalah terjadi oliguria ( sekresi urin berkurang dalam hubungan dengan asupan cairan ) sampai kondisi anuria ( penekanan total pembentukan urin oleh ginjal ), dan mengalami dehidrasi. Pemeriksaan laboratoris menunjukkan peningkatan BUN ( blood urea nitrogen) dan serum kreatinin, berat jenis urin 1,025 , tidak terjadi anemia non regenerative

  1. 2.      Uremia renal primer.


Uremia renal primer meliputi semua uremia yang disebabkan oleh penyakit primer pada parenkim ginjal. Kesudahan dari uremia renal primer tergantung pada derajat kerusakan ginjal dan kemampuan ginjal untuk memperbaiki kerusakan.

Tanda klinis dan hasil pemeriksaan laboratoris pada uremia renal primer :
Pada kondisi kronis terjadi poliuria, oliguria, dehidrasi, peningkatan BUN dan serum kreatinin, berat jenis urin 1,002 – 1,012, terjadi anemia non regeneratif.

3. Uremia postrenal.


Uremia postrenal ditandai oleh gangguan penyaluran urin ke luar dari tubuh. Retensi urin menyebabkan uremia, meskipun struktur dan fungsi ginjal normal. Uremia postrenal yang disebabkan oleh obstruksi urethra, ruptura vesica urinaria, vesica urinaria yang mengalami hernia, dan obstruksi bilateral pada ureter. Jika disebabkan oleh obstruksi dapat terjadi kerusakan ginjal secara sekunder akibat peningkatan tekanan dalam pelvis renales, tekanan pada perenkim ginjal dan berkurangnya aliran darah (Nelson and Couto, 2003). Tanda klinis dan hasil pemeriksaan laboratoris pada uremia post renal :

  • Jika terdapat obstruksi akan terjadi anuria, disuria, dehidrasi, peningkatan BUN dan serum kreatinin, berat jenis urin bervariasi, tidak terjadi anemia non regeneratif.
  • Jika terdapat ruptura akan terjadi oliguria, anuria, disuria, dehidrasi, peningkatan BUN dan serum kreatinin, berat jenis urin bervariasi , tidak terjadi anemia non regeneratif.

Tanda – tanda dari uremia adalah kelesuan, anorexia, vomit dan kadang disertai diare. Jika uremia terjadi selama beberapa minggu terjadi ulserasi mukosa pada mulut dan seluruh permukaan usus yang disebabkan oleh amonia yang dihasilkan dari pemecahan urea oleh bakteri. Pada uremia yang lebih lama lagi dapat terjadi penurunan berat badan, anemia non regeneratif, dan dekalsifikasi tulang karena hiperparatiroidisme sekunder (Nelson and Couto, 2003).

 

  1. Mengetahui tentang cystitis, prostatitis, pyelonefritis (etiologi, pathogenesis, gejala klinis, diagnosis, terapi dan pencegahan) dan cara menganalisis penyakit di saluran perkencingan.

Uraian

Cystitis

Prostatitis

Pyelonefritis

Etiologi Radang pada Vesica Urinaria, biasanya karena infeksi bakteri E. coli, streptococcus, Staphylococcus, Enterobacter, Enterococcus, proteus, klebsiella, Pseudomonas.

Bisa juga karena Mycoplasma, chlamidia, virus dan fungi (Tilley and Smith, 2004).

Predisposisi: Statis Urin, kerusakan syaraf dan defek congenital.

Radang pada glandula asesoria yaitu prostat, biasanya karena infeksi bakteri escherichia coli, staphylococcus aureus, klebsiella spp, proteus mirabilis,. Mycoplasma canis , pseudomonis aeruginosa, enterobacter spp, streptococcus spp, pasteurella spp, dan haemophilis spp (Nelson and Couto, 2003). Keradangan pada pelvis renalis dan parenkim bias akut dan kronis, fokal/difus, statis/aktif

Infeksi bakteri: Staphylococcus, E. coli dan proteus (Nelson and Couto, 2003).

 

Patogenesis proses attachment mikroorganisme,  proses invasive dan opsonisasi lalu fagositosis pada organ sasaran di saluran perkencingan.

 

Gejala klinis Urinasi frekuensi, hematuria, dysuria, usaha urinasi.

Muntah, lemah, suka tidur perut membesar kencing tidak teratur karena volume urin tidak normal atau pada batas normal volume urin pada anjing yaitu 0,2-0,4  ml/kg.

 

Demam, lesu, dysuria, Pembengkakan skrotum, ekskret kemerahan pada preputium, gejala syok (denyut jantung yang cepat atau takikardi, dehidrasi, selaput lendir pucat pulsus lemah, muntah, peritonitis, dan infeksi sistemik (sepsis) jika pecah abses.

USG: intraparenchymal, abses.

Neutrofil Leukosit (Shift to the left) dan monocytosis bila infeksinya akut atau ada abses

Urinalisis: Hematuria, Pyuria dan bakteriuria (Nelsen and Couto, 2003).

Demam, Azotemia, Kerusakan Ginjal

Bersifat subklinis

Kasus kalkuli atau infeksi sal.perkencingan bagian bawah

Obstruksi, depresi, anoreksia, polidipsi, poliuria.

Ginjal sakit, demam intermien, muntah (kasus Kalkuli) (Eldredge, 2007).

Diagnosis Berdasarkan anamnesa dan gejala klinis, pemeriksaan klinis, radiografi dan pemeriksaan laboratorium, uji isolasi dan sensitivitas bakteri, Cystocentesis, Kateterisasi, cystoscopy.

Pemeriksaan sitologi; sel epitel transisional.

 

Berdasarkan anamnesa , gejala klinis, pemeriksaan fisik, USG, kultur cairan prostat dan urine

Urinalisis: Hematuria, Pyuria dan bakteriuria.

Sepsis dan hemoragic dengan makrofag pada infeksi kronik dengan pemeriksaan sitologi: sel epiltel transisional.

Polydipsi, poliuria, Sedimen Urin: WBC, bakteri, mikroskopis, Pemeriksaan radiografi, hematuria, seluler Thorak (casts). Isolasi dan uji sensitivitas bakteri, pyelocentesis,  pyeloscopy, pelvis renalis dilatasi atau bentuk asimetris.
Prognosa Fausta atau bila kronis bisa dubius – infausta
Terapi Ascorbic acid,

Ammonium Chloride,

Ethylene Diamine Dihydrochloride tablet,

DL-Methionine,

Streptomisin, klortetrasiklin, kloramphenicol, ampisilin.

Antibiotik (erytromycin, clindamycin, oleondomycin, trimethroprim-sulfonamide, chloramphenicol, carbenicillin, enrofloxacin, ciprofloxacin) 2-3 minggu.

Terapi cairan,

Abses: Surgical

Kastrasi.

Amonium Klorida,

Antiseptika urin, dan

Antibiotika (Boothe, 2001)

 

Pencegahan Sanitasi kandang dan manajemen pakan.

Pemeriksaan Laboratorium:

 

1. Urinalisis.
Urin pasien yang diduga menderita penyakit pada sistem perkemihan harus diperiksa warna, kekeruhan, berat jenis urin, pH urin, glucose, aseton, bilirubin, darah dan protein. Sedimen diperiksa terhadap adanya eritrosit, leukosit, torak ( cast ), sel epitel abnormal, mikroorganisme dan telur parasit.

2. Hemogram.
Adanya anemia non regeneratif menyatakan prognosa yang kurang baik karena menunjukkan perjalanan penyakit kronis.
3. Elektrolit serum.

  • Natrium : pada poliuria terjadi hiponatremia, pada oliguria atau anuria terdapat hipernatremia.
  • Clor : peningkatan Cl dalam tubuh.
  • Kalium : pada oliguria atau anuria terdapat hiperkalemia yang dapat menyebabkan gangguan konduksi jantung ( aritmia, bradikardia dan heart block ) dan kadang terjadi kelemahan otot.
  • Bikarbonat : penurunan bikarbonat yang menyebabkan penurunan pH darah.

4. Enzim serum.

Pada kegagalan ginjal terjadi peningkatan LDH dan SGOT.
5. Uji fungsi ginjal.

Uji fungsi ginjal dilakukan untuk menentukan lokasi gangguan fungsi ( prerenal, renal primer, postrenal, glomerular, tubular, glomerulo tubular ), berat gangguan fungsi dan membantu menetapkan diagnosa dan prognosa. Uji fungsi ginjal yang paling sederhana tetapi kurang peka adalah BUN, serum kreatinin, berat jenis urin. Uji fungsi ginjal yang lebih akurat adalah urine concentration test, PSP excretion test, creatinine clearence. Pada kegagalan ginjal terjadi peningkatan LDH dan SGOT (Tilley and Smith, 2004).

                                                             

                                                              Daftar Pustaka

Boothe, D.M., 2001. Small Animal Clinical Pharmacology and Therapeutics. 1st Ed., W.B. Saunders Co., Philadelphia.

Eldredge, D.M., Liisa, D.C., Delbert, G.C., and James, M.G. 2007. Dog Owner’s Home Veterinary Handbook 4th Edition, Wiley Publishing Inc, USA.

Nelsen, R.W., and C.G. Couto. 2003. Small Animal Internal Medicine, 3rd ed., Mousby. Pp. 568-631; 927-932.

Tilley, L.P., dan Smith, F.W.K., 2004. The 5-Minute Veterinary Consult Canine and Feline Third Edition. Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia.