Learning Objective

  1. Mengetahui tentang demodecosis pada anjing (etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, prognosis, terapi dan pencegahan).
  2. Mengetahui tentang dermatophytosis pada anjing (etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, prognosis, terapi dan pencegahan).
Ringkasan Belajar:

  1. Mengetahui tentang demodecosis pada anjing (etiologi, pathogenesis, gejala klinis, diagnosis, prognosis, terapi dan pencegahan).

Demodecosis

A.    Etiologi

Tungau demodex hidup di folikel rambut dan gld. Sebasea, menyebabkan kudis demodikosis atau kudis folikuler.

Demodecosis menyerang pada kondisi imunitas yang rendah dan berambut pendek mudah terkena infeksi ini. Tungau demodex  memiliki daya tahan hidup yang besar karena bias hidup berhari-hari dengan suasana yang lembab. Pada daur hidup demodex dari telur sampai dewasa memerlukan waktu 10-14 hari (Levine, 1994).

B.     Patogenesis dan gejala klinis

Lesi kudis bentuk skuamus atau bersisik dan bentuk pustular atau bernanah terdapat pada kulit moncong, mata, kaki depan sebelah plantar/interdigiti, dan dapay meluas ke seluruh tubuh hewan. Bentuk bersisik pada tungau berlokasi di sepertiga bagian luar tubuh dari saluran rambut. Rambut mati dan lepas, alopesia, diikuti dengan hyperkeratosis ringan yang dilapisi oleh sisik dan keropeng berwarna abu-abu.

Pada bentuk pustular, lesi ditandai dengan penebalan, berkeriput serta peradangan. Pustula menjadikan lesi basah oleh eksudat sehingga mengering berupa keropeng. Jaringan sangat oeka dan rasa gatal dan sakit, bentuk pustular juga disertai seborrhea yang menyebakbkan aroma tubuh menyengat  sering dikenal sebagai seborrhea oleosa sedang kering dikenal sebagai seborrhea sicca (Tilley et al, 2004).

C.    Diagnosis

Berdasarkan Anamnesa, Sejarah penyakit dan gejala klinis.

Inspeksi dan palpasi pada kulit meliputi elastisitas, permukaan, pigmentasi, hemoragi,  pruritis, suhu, edema, hipertropi, dan empisema.

Pemeriksaan klinik rambut seperti rambut rontok dan berdiri, pigmentasi, keratin, potongan rambut.

Pemeriksaan mikroskopik kerokan kulit dan pemeriksaan darah (Merck and Co, 1986).

Kudis Demodecosis perlu dibedakan dari kadas, folliculitis, acne, radang kulit oleh gigitan pinjal alergi, alopecia kaena gangguan endokrindan radang kulit superficial (eczema), maupun oleh cacing Strongyloides sp.

D.    Prognosis

Fausta bila ditangani dengan baik.

E.     Terapi dan Pencegahan

Antiektoparasit seperti Dichlorphos 30 mg/kg diberikan 3x dengan interval 2 minggu.

Amitraz, untuk dimandikan dengan konsentrasi 0,125%, 0,06%, 0,03%. Larutan amitraz dianjurkan adalah 25-50 ppm, diulangi 1-2 minggu lagi.

Ivermectin  dosis 0,6 mg/kg bb 1 hari sekali PO.

Benzol peroksida secara topical untuk mengatasi lesi berupa pyoderma.

2. Mengetahui tentang dermatophytosis pada anjing (etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, prognosis, terapi dan pencegahan).

Dermatophytosis             

A.    Etiologi

Ringworm (Dermatophytosis) adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur. Ringworm dapat menyerang kulit di tubuh (tinea corporis), kulit dan rambut kepala (tinea capitis), area inguinalis (tinea cruris, juga disebut jock itch), atau kaki (tinea pedis, juga disebut athlete’s foot). Kucing biasanya tertular oleh Microsporum canis, sedangkan anjing kemungkinan tertular oleh Microsporum canis, Microsporum gypseum atau Trichophyton mentagrophytes (Tilley et al, 2004).

B.     Patogenesis dan gejala klinis

Dermatophyte ditularkan karena kontak dengan rambut atau kulit yang terinfeksi dan elemen fungi pada hewan, di lingkungan atau fomite (seperti, sisir, sikat, alat pencukur, kasur, pengangkutan sangkar burung, dll). M. canis dapat berasal dari debu, ventilasi, dan penyaring perapian tertutup. Spora M. canis dapat terus hidup di lingkungan sampai 18 bulan. Jamur penyebab ringworm tumbuh subur di daerah panas dan basah.

T. mentagrophytes yang sebelumnya sudah terdapat dalam kebanyakan sarang tikus, dan M.gypseum dari tanah yang terkontaminasi sangat berpotensial untuk menyebarkan ringwom dari hewan satu ke hewan lainnya dalam suatu lingkungan yang sudah terkontaminasi pula,ini juga yang menjadi masalah utama pada tempat-tempat penampungan atau pet shop.

Ringworm bisa sangat tahan lama di lingkungan dan dapat terbawa ke benda-benda furnitur, karpet, debu, kipas angin,dll, dan dapat mengontaminasi hewan peliharaan selama beberapa bulan bahkan tahun. Ringworm juga dapat tersebar pada alat-alat grooming, mainan, dan selimut, atau bahkan pada pakaian dan tangan manusia. Ringworm juga dapat ditemukan pada bulu hewan dari lingkungan yang terkontaminasi tanpa menimbulkan gejala apapun. Secara alami periode inkubasi untuk kasus ringworm antara 4 hari – 4 minggu.

Gejala ini yang muncul adalah gatal, merah, potongan bersisik yang mungkin melepuh dan mengeluarkan darah. potongan sering terlihat dengan tepi yang tegas dan menyolok. Ringworm berwarna merah yang mengelilingi bagian luar dengan kulit yang normal di pusat. ini membuat penampilannya seperti cincin. Kulit juga mungkin muncul kehitam-hitaman (gelap) atau agak terang, alopecia, dan jika kuku terinfeksi menjadi kehilangan warna, tebal, dan bahkan hancur luluh (Tilley et al, 2004).

C.    Diagnosis

Uji klinis dan munculnya lesi zoonotik dapat dijadikan patokan, namun pengobatan tidak dapat dilakukan tanpa diagnostik yang lain. Test secara mikroskopik dengan cairan KOH dapat mengetahui adanya spora pada rambut, dan rontokannya. Namun kadang terjadi banyak kesalahan pada teknik ini. Test dengan menyinari lesi pada kulit dengan UV hanya dapat digunakan untuk kasus M. canis dermatophytosis, bila hasilnya positif maka akan terlihat flouresen berwarna hijau. Test dengan media Sabouraud’s merupakan jalan terbaik untuk menjalankan diagnosa.

Jika hewan peliharaan telah didiagnosa terkena dermatophytosis, penting juga mengidentikfikasi apakah hewan peliharaan yang lain terkena atau tidak.

Jika setelah ditest hasilnya negatif, sebaiknya dilakukan test fungi ulang setelah 2 minggu dari hasil status negatif. Jika hewan peliharaan negatif, sebaiknya segera diisolasi dari hewan lain yang terinfeksi.

D.    Prognosis

Fausta, bila kronis bisa dubius-infausta.

E.     Terapi dan Pencegahan

Terapi Topikal

Pengobatan dapat dikatakan tepat bila hanya menggunakan terapi topikal. Obat antifngal topikal seperti miconazole dan clotrimazole dapat berfungsi untuk lesi yang kecil, sedangkan enilconazole atau limesulfur (4-8 oz/galon) dengan mencelupkan hewan dengan infeksi yang luas. Pemakaian tunggal clorhexidine tidak efektif untuk menghilangkan dermatophytosis ataupun mencegah kontaminasi lingkungan. Infeksi yang terjadi di cattery dianjurkan dalam waktu yang lama dan perlu dilakukan perubahan manajemen kandang (Eldredge et al, 2007).

Terapi Sistemik

Terapi sistemik dapat digunakan untuk pengobatan semua jenis dermatophytosis. Pilihan obat yang digunakan adalah griseofulvin (50 mg/kg PO q 24h) dicampur dengan makanan yang berminyak. Griseovulvin merupakan obat keras sehingga tidak dapat digunakan pada hewan yang hamil. Efek sampingnya yaitu depresi, ataxia dan anemia. Efek samping ini akan berhenti bila konsumsi obat tidak dilanjutkan. Depresi umsum tulang belakang akan terjadi pada kucing yang terinfeksi FeLV. Obat alternative lain yaitu ketoconazol (5-10 mg/kg PO q 24h) atau dapat pula dipilih itraconazole(100 mg/kg PO q 24h). Pengobatan harus berlanjut paling tidak 4-6 minggu dan tidak boleh berhenti sampai jamur tidak tumbuh lagi, agar pertumbuhan jamur dapat terjadi lagi.

Pencegahan Dermatophytosis:

  1. Harus diingat bahwa tidak ada vaksin pembasmi ringworm.
  2. Tidak ada pengujian absolute yang bisa dipercaya.
  3. Menjaga hewan agar selalu bersih, kering, menyembuhkan hewan atu mencegah infeksi dari parasit-parasit lain, menjaga hewan agar tidak stress.
  4. Tidak mencampur anak anjing dengan anjing dewasa.
  5. Mengisolasi hewan yang terkena infeksi ringworm dari hewan yang lain.
  6. Karena ringworm temasuk zooosis, maka manusia harus berhati-hati dalam menjaga kebersihan, baik kandang maupun lingkungan rumah atau penampungan.

                                                              Daftar Pustaka

 

Merck and Co., 1986. The Merck Veterinary Manual, Eight Edition, A Merck and Rhone-Poutene Company.

Eldredge, D.M., Liisa, D.C., Delbert, G.C., and James, M.G. 2007. Dog Owner’s Home Veterinary Handbook 4th Edition, Wiley Publishing Inc, USA.

Levine, N.D., 1994. Parasitologi Veteriner, Edisi kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tilley, L.P., dan Smith, F.W.K., 2004. The 5-Minute Veterinary Consult Canine and Feline Third Edition. Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia.